Bisa Belajar Keberagaman Budaya Tanah Air

Bisa Belajar Keberagaman Budaya Tanah Air

PROKAL.CO, Dari sekian banyak rombongan Kirab Pemuda 2018 yang tiba di Tarakan, salah satunya merupakan putra kelahiran Tarakan. Dia adalah Lufti Fahmi.

Luthfi Fahmi yang lahir 17 Oktober 1992 merupakan salah satu dari dua wakil Kalimantan Utara yang ikut dalam program Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) itu. Fahmi terpilih melalui seleksi yang digelar di tingkat Provinsi Kaltara.

Perjuangannya dimulai pada Juli lalu dengan mendaftar secara online melalui situs Kirab Pemuda yang dibuka Kemenpora untuk umum. Fahmi kemudian mengikuti prosedur yang berlaku, yakni melampirkan berkas-berkas yang diminta.

“Termasuk surat kesehatan, surat kelakuan baik dan lain-lain,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sadikin dan Latifah ini ditemui sebelum melakukan kirab keliling jalan protokol di Tarakan, Kamis (1/11).

Usahanya tidak sia-sia. Pemuda yang masih kuliah di Universitas Borneo Tarakan ini dinyatakan lolos pemberkasan dan berhak mengikuti seleksi tahap selanjutnya di Provinsi Kaltara.

Pada tes selanjutnya, Fahmi dan peserta lain ditanya soal wawasan kebangsaan, kebudayaan, terutama budaya Kalimantan Utara dan pengetahuan tentang keolahragaan maupun kepemudaan.

Dari seleksi itu, Fahmi lolos tiga besar dan berhak mengikuti tes wawancara yang ditanya langsung perwakilan dari Kemenpora. Tes wawancara itu merupakan seleksi terakhir untuk menetapkan satu pasang peserta untuk mewakili Kaltara di Kirab Pemuda.

Hasil tes baru diumumkan pada Agustus lalu. Hasilnya, Fahmi terpilih di antara tiga peserta tersebut. Setelah dinyatakan lolos, Fahmi berangkat ke Cibubur untuk mengikuti pembekalan selama lima hari mempersiapkan diri sebelum mengikuti kegiatan.

“Kalau untuk pembekalan memang karena target dari Kirab Pemuda ini adalah napak tilas kebangsaan dan mengajak pemuda untuk menjadi pelaku dalam ekonomi kreatif, maka pembekalan kita pun materi-materi seputaran IT, materi-materi seputaran ekonomi kreatif, materi-materi tentang kebangsaan dan materi-materi tentang kebhinekaan,” tuturnya.

Fahmi tergabung dalam rombongan Kirab Pemuda zona I yang rute perjalanannya dimulai dari Sabang (DI Aceh) dan berakhir di Jakarta, dengan mengelilingi Pulau Sumatera, Sulawesi dan Jawa.

Total sebanyak 17 provinsi disinggahinya. Kaltara menjadi provinsi ke-15 yang disinggahi rombongan Kirab Pemuda 2018 zona I. Setelah dari Kaltara, rombongan bergerak ke Provinsi Banten dan berakhir di Jakarta.

Fahmi mengaku banyak kesan yang ia dapat dari mengikuti kegiatan ini. Yang paling nyata ia mendapat kesempatan mengelilingi 17 provinsi di Indonesia dan mengenal langsung budaya-budaya dari daerah yang ia singgahi.

“Kita bisa melihat langsung bagaimana kondisi keberagaman di Tarakan ini ke pokoknya, ke induknya di kampung halaman masing-masing dan kita memang melihat keunikan, termasuk bagaimana kondisi masyarakatnya, bagaimana kebudayaan masyarakatnya, bagaimana pola kehidupan masyarakatnya, termasuk bagaimana peran-peran pemuda di masing-masing daerah,” bebernya.

Namun, ada juga duka yang ia rasakan. Karena perjalanan yang panjang dan membutuhkan transportasi darat, laut dan udara dalam setiap bepergian dari provinsi satu ke provinsi lain, ia dituntut berhati-hati.

“Karena perjalanan ini memakan waktu hampir dua bulan lebih, maka proses perjalanan melalui jalur darat, laut dan udara ini yang membuat kita was-was,” ujarnya.

Selain itu, Fahmi juga harus pandai menyesuaikan kondisi cuaca di setiap daerah yang ia singgahi. Perubahan cuaca terkadang menjadi kendala peserta, karena merasakan sakit ringan seperti pilek.

Namun itu tidak menjadi rintangan berarti. Karena dalam rombongan disertakan juga satu petugas keamanan dari TNI, satu orang dokter, dua orang alumni Kirab Pemuda dan pendamping dari Kemenpora. Sehingga hal-hal seperti itu bisa diantisipasi.

Dengan telah melihat kondisi persoalan yang sebenarnya di hampir seluruh Indonesia, Fahmi menyimpulkan ada tiga masalah besar yang harus diantisipasi generasi muda. Yakni narkoba, hoaks atau berita bohong dan ekonomi kreatif. Karena itu, Fahmi berpesan untuk fokus mengatasi persoalan itu.

“Pesan untuk generasi muda adalah bagaimana kemudian kita bisa bersama-sama untuk tidak menggunakan narkoba, menjauhi narkoba, karena ini yang menjadi persoalan utama kita untuk membangun pemuda,” tuturnya.

“Yang kedua adalah terkait mengenai hoaks. Ini juga menjadi persoalan di kepemudaan kita dalam bermedia sosial agar kiranya kawan-kawan pemuda bisa bersama-sama mengantisipasi,” sambung Fahmi. (*/fen)

*Berita dikutip dari bulungan.prokol.co dengan judul sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *